Kara Bhuwana Kala: Bali Megarupa sebagai Ruang Semesta Cipta

Kamis, 24 Juli 2025 : 12:37
Pameran Bali Megarupa di N-CAS, ISI Bali. Foto: katarupa.id

Pameran seni rupa tahunan "Bali Megarupa" kembali digelar sebagai salah satu mata program Festival Seni Bali Jani FSBJ) VII tahun 2025. Mengusung tajuk “Kara Bhuwana Kala”, perhelatan ini mengundang renungan panjang: tentang bagaimana seni rupa modern dan kontemporer di Bali menemukan ruangnya dalam percakapan global, sekaligus bagaimana Bali meneguhkan dirinya sebagai titik temu lintas generasi dan bangsa. Sejak kali pertama digelar pada 2019, Megarupa terus tumbuh bukan sekadar sebagai etalase karya, melainkan sebuah panggung yang merangkul gagasan, ekspresi dan lintasan elan kreatif seniman dari Bali dan mancanegara.

Pameran yang  dikuratori Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Prof. Ketut Muka Pendet, dan Jeon Dongsu dari Korea Selatan ini berlangsung 19-28 Juli 2025 di dua venue, Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali dan Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI Bali, Denpasar. Pelaksanaannya yang beriringan dengan rangkaian Festival Seni Bali Jani VII, menjadikan Bali Megarupa bukan sekadar agenda insidental, melainkan bagian integral dari kalender seni tahunan Bali yang terus berkelanjutan. 

Pameran Bali Megarupa di Gedung Kriya,. Foto: katarupa.id

Kehadiran Bali Megarupa pada FSBJ bukan hanya menyajikan puspa ragam seni rupa modern-kontemporer Bali, tetapi juga mempertemukan wacana, refleksi, dan dialog antarbangsa. Dalam konteks ini, Megarupa menjadi salah satu wahana yang menyajikan dinamika seni rupa modern dan kontemporer di Bali, sekaligus membuka ruang bagi seniman global atau lintas negara sebagai bagian dalam lanskap budaya Bali yang kosmosentris.

Tema dan Jejak Makna

Tema Kara Bhuwana Kala menghadirkan simbol berlapis yang membuka banyak pintu tafsir. “Kara” dipahami sebagai perupa—sosok yang berani mengambil jalan cipta dengan kesadaran penuh bahwa setiap karya adalah pertaruhan. “Bhuwana” dan “Kala” melengkapi lanskap itu dengan bentangan ruang dan waktu, menegaskan bahwa penciptaan tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa, melainkan selalu terkait dengan sejarah, budaya, dan momentum zaman.

Pameran Bali Megarupa di N-CAS, ISI Bali. Foto: katarupa.id

Dari padanan istilah ini, pameran menempatkan seniman sebagai subjek yang berani mengembara di antara kesadaran dan ketaksadaran. Proses kreatif dipandang bukan hanya sebagai rutinitas teknis, tetapi perjalanan spiritual yang menyingkap kedalaman batin. Karya yang lahir dari kerangka ini menolak sekadar menjadi produk visual; ia hadir sebagai cermin dialog antara individu dengan semesta.

“Pameran ini sesungguhnya bukan hanya soal karya rupa, tetapi tentang keberanian seniman mengarungi kesadaran dan ketaksadaran dalam proses kreatif,” ungkap Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, kurator pameran yang juga Rektor ISI Bali. Baginya, ruang yang dibangun Megarupa adalah arena penegasan sikap sekaligus keberanian menolak stagnasi, menghadirkan gagasan yang autentik, serta upaya melepaskan diri dari pengulangan dan mannerisme.

Pameran Bali Megarupa di N-CAS, ISI Bali. Foto: katarupa.id

Makna Kara Bhuwana Kala juga menyinggung posisi seni rupa dalam bentang budaya Bali yang sarat spiritualitas. Bali tidak hanya menjadi latar tempat, melainkan juga “kosmos” yang menyediakan energi, simbol, dan inspirasi bagi perupa. Tema ini menegaskan kembali bahwa seni rupa di Bali selalu hadir dalam pertemuan antara ritual, keseharian, dan refleksi global.

Puspa Rupa Seniman Dunia

Tahun ini, Bali Megarupa menghadirkan 89 perupa: 59 undangan khusus dan 30 dari jalur open call. Jumlah ini menegaskan komitmen kuratorial untuk merangkul lintas generasi sekaligus memberi ruang bagi suara-suara baru. Dari perupa termuda berusia 21 tahun hingga peserta senior berusia 69 tahun, hadir sebuah bentang perjalanan artistik yang saling melengkapi.

Pameran Bali Megarupa di N-CAS, ISI Bali. Foto: katarupa.id

Kehadiran enam perupa internasional memperluas dimensi pameran ini. Fotografer Korea, Kim Eunju, membawa karya monokrom yang menghidupkan kembali luka sejarah Gwangju, mengingatkan bahwa seni rupa juga berfungsi sebagai ruang pengarsipan memori kolektif. Dari Italia, Alessio Ceruti menghadirkan Deep and Shallow Reflections yang menembus batas-batas persepsi melalui abstraksi warna. Sementara Paul Trinidad dari Australia mencoba merajut tegangan antara tradisi Bali dan industrialisasi modern, menjadikan kanvasnya arena pertemuan dua dunia.

Lebih dari sekadar representasi geografis, partisipasi lintas bangsa ini memperlihatkan bagaimana Bali menempatkan dirinya dalam percakapan global. “Partisipasi seniman lintas bangsa membuktikan Bali sebagai pusat inspirasi sekaligus ruang perjumpaan peradaban visual,” ujar Jeon Dongsu, kurator asal Korea Selatan. Bali bukan hanya “eksotisme” bagi dunia, melainkan laboratorium ide yang relevan untuk diskursus seni internasional.

Lintas generasi dan lintas bangsa, Bali Megarupa memperlihatkan kekayaan ragam suara: suara muda yang berani bereksperimen, suara senior yang menyimpan kedalaman pengalaman, serta suara global yang membawa perspektif baru. Keberagaman tersebut membentuk puspa rupa yang kaya akan kemungkinan tafsir.

Dari Ritual hingga Abstraksi

Keunikan Megarupa juga tampak dari rentang ekspresi artistik yang disajikan. Sebagian perupa masih berangkat dari akar ritual dan spiritualitas Bali. I Ketut Sumantara dengan karyanya Persembahan merekam kembali nuansa upacara Tawur Agung, sebuah harmoni antara manusia dan semesta. Sementara I Wayan Gulendra melalui Tri Linggam Pawitra menyajikan tafsir simbolik atas energi kosmik Agni, Apah, dan Bayu dalam tubuh manusia. Ada pula I Made Bendi Yudha dengan karya Crossing Love mengangkat pergulatan antara sifat yang baik dan buruk, yang melekat dalam diri manusia dan semesta (Satwam, Rajas, dan Tamas). 

Di sisi lain, jalur abstraksi muncul kuat sebagai medan eksplorasi. Wayan Karja menampilkan Landscape, bentang warna abu-abu dan emas yang memunculkan lanskap subtil, seolah mengajak penonton masuk ke ruang meditasi. Sutjipto Adi lewat Taman Vibrasi I menyajikan spontanitas warna penuh energi kosmik, menggugah kesadaran penonton untuk merasakan vibrasi semesta melalui medium kanvas.

Pameran Bali Megarupa di N-CAS, ISI Bali. Foto: katarupa.id

Karya I Wayan Setem, Pagar Laut, menghadirkan dimensi ekologis yang kuat. Dengan bahasa visual yang lugas namun simbolis, ia memperingatkan tentang ancaman kerusakan pesisir dan mengingatkan publik bahwa seni rupa juga dapat menjadi seruan ekologis. Karya ini memperlihatkan bagaimana seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tanggung jawab sosial.

“Dari ritual hingga abstraksi, semua karya lahir dari pergulatan batin yang tulus,” jelas Prof. Dr. I Ketut Muka. Keberagaman ekspresi ini adalah kekuatan Bali Megarupa: menyatukan banyak jalan kreatif dalam satu ruang renung bersama.

Tubuh, Perempuan, dan Ingatan

Salah satu yang menonjol dari pameran tahun ini adalah kehadiran lebih banyak perupa perempuan. Kehadiran mereka bukan sekadar angka, tetapi suara baru yang membawa sensibilitas berbeda. Ni Komang Atmi Kristiadewi, Ni Kadek Karuni, dan Ni Made Purnami Utami menghadirkan tafsir tentang tubuh perempuan dalam ruang spiritual maupun domestik. Karya mereka tidak hanya visual, tetapi juga wacana tentang posisi perempuan dalam budaya.

Pameran Bali Megarupa di Gedung Kriya. Foto: katarupa.id

Pada saat bersamaan, sejumlah perupa laki-laki juga mengangkat perempuan sebagai simbol dan metafora. Kadek Sumadiyasa melalui Men Brayut menghidupkan kembali mitos perempuan Bali kuno sebagai figur ketangguhan dan kesetaraan. Nyoman Polenk Rediasa dalam Fragmen Busa menempatkan tubuh perempuan sebagai situs arkeologis yang menyimpan memori budaya berlapis.

Pameran Bali Megarupa di Gedung Kriya Foto: katarupa.id

Perempuan, dalam pameran ini, tampil sebagai subjek dan objek sekaligus. Tubuh mereka tidak hanya digambarkan, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang tafsir kultural. Kehadiran ini menambah kedalaman pameran, menghadirkan percakapan tentang gender, identitas, dan sejarah budaya yang melekat dalam tubuh.

Dengan demikian, Bali Megarupa bukan hanya ruang untuk estetika rupa, tetapi juga medan diskusi tentang tubuh, gender, dan ingatan kolektif.

Menolak Stagnasi, Merawat Kosmosentris

Keberanian menolak mannerisme menjadi salah satu capaian Bali Megarupa 2025. Banyak karya yang justru melahirkan sensibilitas kosmosentris—manusia bukan semata sebagai pusat, melainkan bagian dari lingkaran ekosistem semesta.

Patung terracotta Persecuted karya I Nyoman Laba menghadirkan tubuh penuh luka sebagai metafora penderitaan manusia. Ia menyingkap fragilitas kehidupan dan sekaligus ketahanan manusia dalam menghadapi tekanan. Sementara Made Jodog lewat Dalam Titik Temu menyuguhkan figur hibrid, melampaui identitas tunggal, seakan menegaskan bahwa manusia kini hidup dalam dunia berlapis dan cair.

Pameran Bali Megarupa di Gedung Kriya. Foto: katarupa.id

Fotografi Bayu Pramana, See the unSeen, menangkap momen ritual keseharian yang sering luput. Dari detail kecil—dari asap dupa hingga gerak tangan yang sederhana—ia menyuguhkan pesan besar: bahwa kehidupan sehari-hari adalah ruang perjumpaan antara kasat mata dan yang tersembunyi.

Kosmosentrisme dalam karya-karya ini mengingatkan bahwa seni rupa memiliki peran penting dalam menggeser pusat: dari ego manusia ke semesta yang lebih luas. Inilah cara seniman menolak stagnasi, dengan menghadirkan perspektif baru yang merangkul keterhubungan.

Ruang Renung Global

Pada akhirnya, Bali Megarupa hadir sebagai ruang renung global. Ia bukan hanya pameran seni rupa, tetapi sebuah ajang untuk menimbang ulang posisi manusia dalam kosmos, untuk membaca ulang sejarah dan budaya dalam bingkai kontemporer.

Pameran Bali Megarupa di Gedung Kriya. Foto: katarupa.id

“Bali Megarupa adalah ruang penemuan diri. Ia bukan sekadar ajang presentasi, tetapi perjalanan spiritual dan kultural yang menandai wajah seni rupa Bali di masa kini dan mendatang,” tegas Kun Adnyana. Pernyataan ini menutup pameran dengan refleksi: bahwa Megarupa bukanlah akhir, melainkan proses berkelanjutan dari keberanian seniman mencari makna.

Dengan keterlibatan seniman dari Bali, nusantara, hingga mancanegara, Megarupa memperlihatkan bagaimana memori lokal dapat bersenyawa dengan refleksi global. Dari puspa rupa yang ditampilkan, publik diajak menyadari bahwa seni rupa Bali terus bergerak, melintas medium, melintas batas geografis, dan hadir sebagai suara universal tentang kehidupan, kosmos, dan kemanusiaan. (RLS/ID)





Berbagi Artikel