Manusia Jawa di Dinding Kaca Muntpunt

Minggu, 19 Januari 2020 : 13:07
Visual komikal manusia Jawa di Europalia ini adalah bagian dari proyek seni rupa Prihatmoko Moki bertajuk “The Soldiers Without A King” atau “Prajurit Kalah Tanpa Raja” yang dirintis sejak 2015. (Foto-foto: Warih Wisatsana)
JIKA berkunjung Brussels, coba singgah di Muntpunt, sebuah perpustakaan yang elok di pusat kota. Sepanjang Oktober 2017 hingga Januari 2018, di dinding kaca yang menghiasi sekeliling bangunan tersebut, seketika pandangan kita akan terpikat dua wujud patung khas Flores – ikonik dari Europalia Arts Festival.

Namun di sisi dinding lainnya, terhampar pula rangkaian mural kaca atau fresko, menghadirkan sosok-sosok manusia Jawa berikut atribut busana dan blangkonnya yang khas.

Rupanya bukan hanya gedung pertunjukan atau ruang galeri, ternyata karya seniman Indonesia juga tampil di ruang publik, sebagaimana di Muntpunt ini, di Jalan Place de la Monnaie 6, Bruxelles, Belgia.

Sambil meresapi karya perupa kontemporer Indonesia, Prihatmoko Moki (35) tersebut, dengan narasi manusia Jawa yang komikal serta mengandung berlapis arti; antara ironi, pemertanyaan jati diri, sesekali kita akan menyaksikan bus kota melintas, dihiasi poster Europalia, serta tertera pula kata Indonesia.

Cuaca dingin minus 4 derajat serta rinai salju yang menggigilkan, sesaat tertepis oleh hangatnya kebanggaan. Melalui karya mural komikalnya tersebut, Prihatmoko Moki, seniman muda lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, terpilih menghadirkan sisi budaya kontemporer Indonesia.

Sosok-sosok komikal tersebut ditampilkan di dinding kaca, melalui teknik bergaya clear line sebagaimana dikembangkan seniman Herge, kebanggaan Belgia, pencipta tokoh Tintin yang melegenda itu.

Memang, laiknya perupa muda terkini, Moki terbiasa bekerja lintas bidang. Tak hanya komik, beragam seni visual pun diminati, semisal seni grafis dengan cetak saring dan sablonnya, bahkan musik pun jadi pilihan media ekspresinya.

Selain Prihatmoko Moki, sepanjang Europalia ini juga tampil seniman-seniman muda yang terbiasa menghadirkan karya-karya konseptual art di ruang publik. Semisal Sheila Rooswita, Beng Rahardian, dan Yudha Sandhy, serta bertindak sebagai kurator adalah Hikmat Darmawan.

Sheila Rooswita berkolaborasi dengan Peter Van Dongen, seniman asal Amsterdam, menampilkan ilustrasi Jakarta zaman kolonial disandingkan dengan visualisasi Jakarta masa urban kini di Wittockiana Museum.

Adapun Yudha Sandhy mengambil tajuk ‘Atom Jardin’ memanfaatkan kelenturan kertas tertentu dengan pendekatan sejenis teknik cukil kayu.

The Soldiers Without A King

Menurut Moki, rangkaian visual komikal manusia Jawa di Europalia ini adalah bagian dari proyek seni rupanya bertajuk “The Soldiers Without A King” atau “Prajurit Kalah Tanpa Raja” yang sudah dirintis sejak tahun 2015.

“Saya mencoba menggambarkan melalui mural dengan bahasa visual komikal tentang kota tempat saya tinggal, Yogyakarta.

Prihatmoko Moki (Foto: Biennale Jogja)
Daerah istimewa dengan otonomi pemerintah yang dipimpin oleh seorang raja. Ini adalah seni gagasan, semacam kritik atas pembangunan yang secara ironi mengubah kota sedemikian cepat atas nama pembangunan, sehingga kehilangan humanismenya.

Kota berubah menjadi semakin tidak ramah kepada para penghuninya,” ujar Prihatmoko Moki, Finalis Redbase Young Artist Award 2016. Bekerjasama dengan penyair Gunawan Maryanto yang juga sutradara Teater Garasi Yogyakarta, karya-karya mural Moki hadir di berbagai sisi kota ini.

Secara khusus, menghadirkan visual prajurit-prajurit Keraton Yogya sebagai metafora bagi warga atau masyarakat yang mengalami disorientasi akibat percepatan perubahan kota tanpa kehadiran sang raja.

Rangkaian mural karya Prihatmoko Moki, dapat dilihat di berbagai tempat di Yogyakarta. Misalnya, di pos kamling di Kampung Minggiran, menampilkan sosok prajurit Keraton dengan wajah terlihat sedih, seolah putus harapan.

Yogyakarta terdapat mural bergambar beberapa prajurit Keraton, wajah mereka tampak sedih, seolah kehilangan harapan. Dada mereka tertancap anak panah, seolah menggambarkan pasukan yang kalah.

Hampir serupa dengan itu, terdapat juga prajurit yang dipapah oleh rekannya berikut puisi karya Gunawan Maryanto, “Siapa lagi yang berjaga, Setelah kami tak ada”.

Gambar-gambar serupa juga hadir di kampung-kampung di Yogyakarta yang merujuk nama prajurit Keraton, semisal Kampung Daeng, Prawiro Taman, Patang Puluhan, Bugisan, Wirobrajan, dan lain-lain.

“Yogyakarta seperti bukan lagi kota budaya, di mana warganya seharusnya bisa hidup tenteram, menghargai budaya, serta menjunjung tinggi tepo seliro. Wajah kota sudah berubah tergerus kapitalisme,” tambah Prihatmoko Moki, yang juga kerap mengikuti proyek kolaborasi lintas bangsa, semisal di Vietnam, Sidney, dan Kuba.

Serangkaian mural “Prajurit Kalah Tanpa Raja” itu bermula dari Pameran Indonesia Berkabung yang mengekspos beragam permasalahan di Indonesia, mulai dari kasus korupsi, kerusakan lingkungan, berbagai kriminalisasi, dan sebagainya.

Selain divisualkan sebagai mural, Moki juga menyusunnya menjadi sebentuk komik atau cerita bergambar yang dia unggah ke sosial media.

Pramoedya Ananta Toer

Sosok manusia Jawa di dinding kaca itu terasa lebih sugestif dan imajinatif dengan hadirnya sejumlah buku tentang Indonesia yang dipresentasikan tersendiri di dalam gedung tertaut Festival Europalia ini.

Sebagai perpustakaan umum, mereka memiliki 120 lebih koleksi buku dan CD Musik bertema Indonesia, yang penciptanya baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Terdapat juga semacam banner khusus yang mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer, novelis nominasi Nobel, dalam bahasa Inggris, “Even though no one admits it, writers are leaders in their communities.”

Bersanding di ruang itu, karya monumental Saidjah dan Adinda (Multatuli), berikut berbagai terbitan Balai Pustaka dalam versi aneka bahasa, novel-novel Marion Bloem yang versi Indonesianya diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), juga karya terkini penulis Indonesia dalam terjemahan bahasa asing, semisal Leila Chudori, Eka Kurniawan, dan Ayu Utami.

Tak ketinggalan buku tentang seni rupa Bali dan Indonesia, roman, dan catatan antropologis yang bertema Nusantara dalam beragam bahasa oleh penulis luar.

Pendeknya, Europalia memang mencoba menghadirkan Indonesia lintas zaman, melalui 20 eksibisi terpilih, 100 pertunjukan musik, 27 pementasan tari-tarian, 27 teater & pemutaran film, serta 34 karya sastra dari Indonesia, mulai tanggal 10 Oktober 2017 dan berakhir pada 21 Januari 2018.

Begitulah, sesampai di tikungan, menuju pusat penyelenggaraan Europalia, di Centre For Fine Arts Bozar, Brussels, sosok manusia Jawa itu terus membayangi: berdiam hening di dinding kaca perpustakaan Muntpunt. Sebuah renungan dari Moki untuk kita, Indonesia. (san)
Berbagi Artikel