Erawan, Ritus Lintas Batas

Kamis, 28 April 2022 : 16:06

Oleh : Warih Wisatsana 
 
Perupa Nyoman Erawan memang seniman “penggelisah”, terus bergerak mencipta serta menggali berbagai kemungkinan. Tak pernah terkungkung dan puas diri akan bentuk estetik atau stilistik yang telah diraihnya. Sebagai kreator multitalenta, Nyoman Erwan dikaruniai elan kreatif  tinggi. Menolak kemapanan, ia tak hanya melukis dua dimensi, tiga dimensi dan seni instalasi, melainkan melahirkan pula berbagai karya multimedia berikut performing art yang lintas batas; mempertautkan kekayaan kultural Bali dengan kemodernan nan kontekstual yang mencerminkan kekinian.
 
Dokumentasi: Bentara Budaya Bali
Intensitas penciptaannya yang tak putus tersebut merupakan sebentuk ritus, dilakoni dengan kesetiaan lahir batin. Lukisan abstrak dua dimensinya, yang kaya dengan ikon-ikon Bali, adalah simbolisme yang menggambarkan pencarian dan pertanyaannya akan keniskalaan, dunia tak kasat mata yang melingkupi kesehariannya. Kegelisahan kreatifnya mencerminkan dinamika dan transformasi tempat kelahirannya, Sukawati, Gianyar; yakni satu daerah dengan latar sejarah panjang; dari pusat pemerintahan kerajaan hingga daerah tujuan wisata dengan pasar seni rakyatnya yang tersohor. Pada periode cipta inilah, ia memperoleh Phillip Morris Art Award, sebagai bukti keotentikan karyanya sekaligus kepiawaiannya mensintesakan kekayaan seni tradisi dengan estetik dan teknik seni rupa modern, serta kesanggupannya meramu pesan atau tematik yang merujuk problematik yang tengah terjadi.
 
Karya-karyanya itu bukan sekadar abstrak atau semata habluran warna personal, melainkan sebentuk puitisasi semesta diri (mikrokosmos-makrokosmos) sekaligus mempresentasikan, apa yang disebut budayawan Dick Hartoko, sebagai “Rasa yang tak terlihat” (unseen feeling) berikut daya kreatif (creative power) yang tak kunjung surut. Karya-karya tersebut sesungguhnya adalah sebuah tarian yang nir- sosok - lapis demi lapis bayang –hadir melalui sapuan warna yang melepas bebas atau ragam visual tiga dimensi yang lintas batas ruang dan imajinasi.
Dokumentasi: Bentara Budaya Bali
 Menurut sejumlah pengamat seni, Erawan selalu berupaya menciptakan karya-karya yang berkualitas dan orisinal. Melalui medium ekspresinya yang beraneka (mixed media) sudah sedini tahun 90-an Erawan mengeksplorasi hal-hal esensial warisan tradisi Bali guna meneguhkan karakter ciptaannya yang khas dan kuat. Penggalian stilistik dan tematik yang mendalam itu terekspresikan pada karya-karyanya yang hadir mempribadi sekaligus menggambarkan respon kreatifnya akan kekinian (kontemporer). 
 
Selepas pencapaian itu, Erawan justru menunjukkan keteguhannya untuk mengelak dari persepsi publik atas dirinya, berupa pujian ataupun sanjungan yang seringkali menciptakan tirani estetik serta tak jarang melenakan  kreator dalam kemapanan atau kemandegan. Ia malah melakukan berbagai peristiwa kesenian, yang tak semata mengedepankan keelokan atau estetika namun juga sebentuk protes sosial atau kepedulian. Tentu saja hal ini mengandung resiko, bahwa ia akan dipertanyakan oleh sebagian publik yang menduganya kehilangan elan kreatif yang mempribadi sekaligus menjadi kekuatannya. Akan tetapi, peristiwa demi peristiwa seni yang dihadirkannya kemudian, menunjukkan bahwa ia   sesungguhnya tengah menjadikan seluruh kehidupan kesehariannya sebagai  laku upacara.
 
Dokumenasi: Bentara Budaya Bali

Bentuk-bentuk performing art menjadi pilihan Nyoman Erawan, boleh jadi dipandang sebagai sarana artistik yang tepat dan paling mungkin mewakili ekspresinya yang cenderung lintas bidang ini.  Sesungguhnya seni pertunjukan sudah sedini awal memikatnya. Semasih kuliah di STSRI Yogyakarta, ia mendukung lakon teater  yang disutradarai Ikranegara di Taman Ismail Marzuki tahun 1979, juga pada tahun yang sama turut dalam garapan  “Metamorfosa”  Wayan Dibia di Denpasar, Bali. Satu tahapan yang penting adalah keberhasilannya menyuguhkan performing art kolosal bertajuk “Cak Seni Rupa Latta Mahosadi” di STSI Denpasar (ISI), tahun 1997. Tahun berikutnya, merayakan  Hari Bumi, Erawan melakukan “Ruwatan, Ritus Seni Rupa Nyoman Erawan”. Kedua pertunjukan itu mengukuhkan keotentikan bentuk ciptanya,  di mana ritus atau upacara disikapinya sebagai medium sekaligus pesan itu sendiri.
Dokumentasi Pribadi Nyoman Erawan
Kedua performing art tersebut merefleksikan latar kultural Erawan, dilahirkan dari masyarakat agraris komunal, di mana semangat kebersamaan yang guyub terwujud melalui ragam kolaborasi modern tanpa kehilangan elemen esensialnya yakni kekhusyukan dalam kesemarakan ritual ala Bali yang mistis-magisnya tetap mempesona.

Erawan “Beyond a Light” 

Layak dicatat pula, sebuah peristiwa seni yang dihadirkan Erawan, buah kolaborasi dengan fotografer dan video maker, yakni bertajuk Erawan vs Perupa Cahaya Sejati “Beyond a Light”. Bermula dari peluncuran buku Salvation of The Soul Nyoman Erawan yang ditandai performing “Ritus Wajah Digoreng-Goreng” di Tony Raka Gallery (2012), melibatkan pula para penyair terpilih. Secara spontan pertunjukkan tersebut diabadikan oleh para fotografer dan video maker yang tak pelak hasilnya memicu Erawan melakukan kreasi lebih jauh. Sejurus dengan itu, pada awal tahun 2014, Erawan secara khusus mengundang  para penyair-penyair tersebut yakni Mas Ruscitadewi, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, W. Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta guna berkolaborasi dalam Erawan vs Penyair Sejati “ Salvation of The Soul, Ritus Bunyi Kata Rupa” di Antida Denpasar, berlangsung 15 Maret 2014, mendapat sambutan antusias dari pemirsa dan media massa.

Peristiwa tersebut adalah hasil eksplorasi sedemikian rupa sehingga melahirkan sebentuk teater ritus –suatu ragam  seni pertunjukan yang mengedepankan ciri-ciri ritual yaitu intensitas dan keterjagaan nan ritmis, namun tetap menyediakan ruang ekspresi bagi kespontanan. Panggung ditata dengan pendekatan visual penuh warna ala Erawan yang sugestif dan imajinatif, serta memungkinkan para penyair terlibat secara total, luluh menyatu dalam tata suara dan tata cahaya yang utuh secara keseluruhan.

Dokumentasi: Bentara Budaya Bali

Melalui proses kuratorial, dokumen-dokumen foto dan rekaman peristiwa ritus seni itu kini ditampilkan melalui upaya representasi baru, yang dalam tahapannya didahului  proses dialog melibatkan para fotografer dan video maker terpilih atau para perupa cahaya. Dengan demikian, mereka tidak semata menghadirkan rangkaian dokumentasi atas peritiwa, namun melakukan interpretasi bersama melalui sebentuk representasi dan persepsi “baru”. Dalam ruang dan waktu penciptaan tersebut, Erawan dan enam Perupa Cahaya ini menggali dan  melampaui batas-batas konvensi pemahaman kita terhadap foto atau dokumentasi, serta masing-masing dengan cara otentik dan unik mendayagunakan kekuatan cahaya sebagai medan kreativitas.

Dokumentasi: Bentara Budaya Bali

Apa yang bakal terjadi? Apakah foto-foto yang ditampilkan, dan juga direspon oleh Erawan, menjadi sebentuk karya rupa yang kukuh berdiri sendiri atau sekaligus mencerminkan proses demi proses dari seni ritus yang dijalani selama ini? Adakah presentasi kali ini, yang melibatkan aneka teknik fotografi, dapat dirunutkan pemaknaannya seturut Bali diidealkan sedini awal abad 19 oleh fotografer asal Jerman, Gregor Krause? Apakah foto-foto seni ini, baik proses maupun capaian estetiknya, merupakan sebuah upaya dekontruksi terhadap citraan eksotik turistik tentang Bali yang dihasilkan fotografer tempo dulu?

Pertanyaan itu, dan juga pertanyaan lainnya, tentu saja menyertai pembacaan kritis publik seni pada rangkaian peristiwa penciptaannya. Dengan demikian, terbuka medan tafsir yang makin luas dan mendalam, sejalan juga dengan kebebasan para hadirin memaknai karya demi karya Erawan yang terpajang dua dimensi di dinding serta tervisualisasikan dalam ragam tiga dimensi, instalasi atau bentuk lainnya.

Dokumentasi: Bentara Budaya Bali

Ketegangan antara sang Aku yang individual dengan ruang jelajah ekspresinya yang personal, berhadapan sang Diri yang komunal berikut jalinan aktivitas sosial kesehariannya; tecermin dan hadir dalam karya-karya Nyoman Erawan. Pada karya dua dimensi di kanvas, sosok Aku sesekali muncul sebagai wajah ‘Erawan’ dalam beragam tampilan emosi; semisal sepekikan protes atau luapan batin yang tak tertahan. Sedangkan pada karya-karya instalasi dan performing, sang Diri ‘Erawan’ itu lebur menjadi berbagai kemungkinan visual yang ekpresif dan dinamis; menyarankan berbagai tafsir dan pemaknaan.

Namun keseluruhan karya tersebut, baik sang Diri yang personal maupun komunal, datang kepada kita secara sugestif melalui ragam iramanya yang ekspresif dan dinamis, serta diselingi intensitas pengulangan (baca; gerak atau sapuan warna atau bunyi-bunyian) yang seringkali bersifat ritmis. Demikianlah wujud obsesif kreatifnya yang selama lebih 30 tahun telah merundung proses ciptanya. Bolehlah dikata bahwa karya-karya Erawan tak bisa lagi dibingkai atau digolongkan dalam satu ‘isme’ tertentu; karena hakikatnya ia memang seorang kreator yang lintas batas. Maka, lawan tertangguh bagi Erawan adalah dirinya sendiri, sebentuk rundungan pengulangan (mannerisme); dan hingga kini dapat dicatat bahwa sang kreator ini kuasa melampaui tirani estetika capaiannya sendiri tersebut. 

* Warih Wisatsana, Penyair dan Kurator

**Tulisan ini adalah pengembangan dari berbagai tulisan Warih Wisatsana yang telah dimuat di majalah Galeri terbitan Galeri Nasional serta dalam pengantar pameran Nyoman Erawan

Berbagi Artikel