Tilas Historis, Labirin Kejadian

Kamis, 24 September 2026 : 10:39
Dok. Pribadi

Menyimak sajak-sajak pada buku bertajuk “Marka” ini, mengemuka pandangan bahwa penciptanya bukanlah Penyair “Pejalan Sunyi”, dimana karya-karyanya semata melantunkan solilokui; kehampaan diri dengan dunia yang terkucil sendiri.

Seno Joko Suyono, di penghujung tahun 2024 ini, melalui buku kumpulan sajaknya yang kedua, berisi 50 karya, rentang cipta tiga tahun belakangan, hadir menyapa pembaca dengan pergumulan pengalamannya yang lintas masa dan bangsa. Bukan semata yang diungkap tilas historis capaian peradaban ribuan tahun, melainkan laku pengalaman dan olah penghayatan mendalam, terutama pada hakikat keberadaan Sang Waktu sebagai momentum kejadian nyata –sekaligus memicu peristiwa penciptaan yang mempribadi.

Dok. Pribadi

Dengan kata lain, ia adalah “Pejalan Jauh”, Peziarah Sejarah, yang menyadari bahwa peristiwa-peristiwa historis bukan hanya merujuk pada tempat kejadian (place), akan tetapi ruang (space); yang kemudian meruang karena mengundang renungan. Penyair dengan sadar membangun dunia rekaan pada puisinya yang merangkum kepingan kenangan dan kejadian, berbaur serpih ingatan, juga pengharapan mendatang.

Tecermin pada kata atau ungkapan terpilihnya, semisal arca, candi, vihara, Ganesha dan petilasan lampau lainnya; termasuk kisahan Kunjarakarna, Nalanda, serta Lembah Panjshir; tidak melulu terhampar sebagai sesuatu yang kasat mata saja. Seno laiknya seorang arkeolog, tergambar pada pilihan metafor dan latar kisahan puisi-puisinya, berupaya mengungkapkan peradaban masa lalu dengan menelaah benda-benda historis, baik pada situs-situs sejarah maupun penggalian tersendiri dalam tanah dan goa. Akan tetapi selalu ada sentuhan renungan akan kekinian; menjadikan segala yang arkaik itu tertaut pula pada hal-hal kontekstual. Terdepankan berupa pertanyaan hakiki, penegasan sikap atas lapis demi lapis historis yang tak jarang berujung pada ambang eksistensi manusia dan absurditas kehidupan. 

Dok. Pribadi

Dunia puisi-puisi Seno memikat justru karena menyarankan waktu yang tidak linier atau kronologis, melainkan kronometrik; yang silam dan pengharapan mendatang bisa bereinkarnasi menjadi peristiwa atau sesuatu yang menyekarang.  Bukan suatu kebetulan bila puisi pertama yang dihadirkan pada buku ini,berjudul Dinner. Puisi ini mengalir tersebab deskripsinya berupa perbincangan yang intim, mengusut jejak waktu sebagai kejadian yang muskil. Waktu sebagai galian tematik membayangi puisi-puisinya yang diliputi penggambaran kejadian yang surealistik. 

Simaklah puisi-puisi Seno yang antara lain berjudul; Jika Kita Sepasang Mahasiswa Arkeologi di Kabul; Surat Imajiner dari Lembah Panjshir; Di Depan Lukisan Malevich; Di Gedung  Astana Opera; Sungai Neva; Surat Untuk Blavatsky; Ganesha, dan Topeng

Karya-karya tersebut, mengingatkan pada pada kecenderungan puisi-puisinya di buku kumpulannya yang pertama “Di Teater Dionysos” (2020). Yang dipresentasikan bukan dunia yang baik-baik saja, melainkan keadaan yang chaostik, sebagaimana yang terjadi dan dicatat sebagai sejarah. Bila pada kumpulan terdahulu “Sang Aku” Penyair hadir menggenangi puisi-puisi itu, pada karya-karyanya yang terkini ini (Marka), “Sang Aku” boleh dikata luluh sebagai personifikasi orang banyak; memungkinkan pembaca dapat berdialektika dengan pengalamannya sendiri. Memperluas medan tafsir, sebagaimana panggilan dan keniscayaan  kehadiran Puisi. 

Capaian stilistika dan estetika puisi-puisi Seno terkini ini tidak terlepas dari kesadaran dan disiplin cipta yang digelutinya. Kita dapat merujuk pada puisi yang secara khusus diposisikan urutan kedua, berjudul “Observatorium”. Bila kita mendalaminya, jelaslah puisi ini mencerminkan sikap Seno bahwa seorang penyair itu, panggilannya adalah sebagai observator atau peneliti/pengkaji atau pengamat. Tidak melulu bersandar pada daya intuisinya, melainkan mengolah diri seturut melakukan kajian dan pendalaman serta penghayatan atas peristiwa-peristiwa yang datang kepadanya; baik sebagai kejadian nyata maupun berupa interteks. 

….

Hati-hati dirimu membuka pintu.

Begitu tersentuh bersemburlah karat

Bunyinya: ringkik kuda yang disembelih

Derit demikian kata musim gugur

Hanya terdengar menjelang saat  pertapa pertama

di aeon ini – sang Krakucchamda lahir


Tidak mengherankan bahwa puisi Observatorium ini menegaskan hadirnya pesona waktu kronometrik, juga luapan kebebasan imajinasi yang mempertemukan berbagai unsur historis dan kejadian sejarah lintas masa dalam penghayatan yang mempribadi. Melalui puisi ini, pembaca akan menemui jangkauan pandang ke galaksi tersembunyi, jejak kawanan burung Siberia, maupun lanskap hijau Hutan Jambi; termasuk pula tetes-tetes frasa yang menggambarkan khotbah sang Guru Agung Nalanda. Kebebasan imajinasi tetaplah diikuti satu sikap kehati-hatian diri (Hati-hati dirimu membuka pintu); satu sikap mawas diri/mulat sarira atas segala fenomena yang serba seketika dan serentak datang kepada kita sebagai cerminan kemelekatan dalam pikiran. 

Puisi-puisi Seno mewartakan bahwa penyairnya adalah seorang penelaah sejarah Buddha yang intens, dan dengan sendirinya ajaran-ajaran Buddhism mewarnai laku cipta dan aktivitas sehari-harinya. Puisi-puisinya menyiratkan/menyuratkan terkait perihal dharma, karma, moksha, juga disiplin spiritualitas yang mesti ditempuh seseorang untuk mencapai tataran tertentu, yang bertujuan membebaskannya dari belenggu samsara. 

Dok. Pribadi 

Disiplin cipta yang melahirkan buku ini, dapat dirujukkan pada apa yang disuratkan puisi Marka; yakni sebentuk penunjuk/pembatas yang melarang masuk ke wilayah tertentu. Secara paradoksal, pemahaman akan batas yang melingkupi eksistensi manusia, justru memicu lahirnya karya-karya puisi Seno yang kompleks, jauh dari rumit, karena tata bunyi dan arti saling menggenapi. Waktu kronometrik yang dipilihnya, memungkinkan Seno melakukan jelajah bebas imajinasi lintas masa dan peristiwa. 

Puisi-puisinya terbilang sublim, boleh jadi karena penghayatan akan keyakinan bahwa moksa atau pencerahan hanya dapat diraih bila yang bersangkutan tidak terikat atau melekat pada apapun. Kejadian sejarah dihayati secara mendalam sebagai pengalaman literer; situs historis didatangi dan dialami dalam laku perenungan cipta; bertaut pula dalam wujud pengharapan mendatang. 

Disiplin cipta dan penegasan sikapnya pada hidup dan pada karunia kebebasan, tecermin melalui puisinya berjudul Bekas Kamp Alzhir, Kazakhstan: Jangan sampai sebuah sajak turistik tercipta dari sini/ Sajak yang berpura-pura terharu/ Melihat bekas gerbong maut – yang menjejalkan ribuan ibu-ibu/ Ke Gulag  perempuan. Ditaruh apa adanya di halaman/ Tanpa dibersihkan bekas noda-noda darahnya// 

Tak perlu mendadak lahir seorang penyair/ Tatkala memergoki –  sepasang kakek-nenek renta dari Rumania – / Menyeka air mata, menangkupkan  mawar/ Di  atas batu bertorehkan prasasti nama-nama/ mereka yang diperkosa// Sabana yang mengombang-ambingkan/ tatapanmu kepada kenisbian.

Pada penghujung buku hadir sebuah sajak pilihan tentang Lantai Dua Mahabodhi Vihara, yang menggambarkan pula capaian keseluruhan dari karya-karya Seno Joko Suyono kali ini; meraih kesederhanaan pengucapan, namun mengungkapkan semesta rekaan yang berlapis makna. Kuasa melampaui dunia personal yang kompleks, menghamparkan labirin kejadian dengan belantara metafora yang terbuka. Penyair ini adalah pengisah yang indah, seraya mengelak jadi penutur yang luhur, tersebab menyadari: 

Buddha pernah membuat jembatan di  alam dewata

Jembatan tak kasat mata. Bukti penerangan agung


Di ruang tersembunyi lantai dua ini

Aku bersijingkat

Mungkin ada celah untuk mengintip titian itu  


(tinjauan oleh: warih wisatsana)

Berbagi Artikel