Parama Paraga: Menelusuri Dua Dasawarsa Jalan Cipta Wayan Kun Adnyana

Senin, 30 Maret 2026 : 22:35

Membaca perjalanan seni Wayan Kun Adnyana ibarat menelusuri bagaimana garis bukan hanya teknik, tetapi juga cara berpikir. Pada fase awalnya, gores garis Kun Adnyana hadir dengan ketekunan yang hampir asketik: rapat, rinci, bertumpuk, dan sabar membangun bentuk. Dari sana lahir figur-figur, tubuh, objek biomorfik, juga pelbagai citra yang berangkat dari tafsir atas simbol, sejarah, dan artefak Bali. Namun pada giliran berikutnya, yang patut dicatat yakni kesediaan Kun untuk tidak berhenti pada capaian yang sudah mapan. Garis yang mula-mula menegaskan bentuk itu, dalam perjalanan panjangnya, perlahan bergerak menuju peluluhan bentuk; sebentuk abstraksi yang tidak lagi sibuk menjelaskan sosok, melainkan memberi ruang pada resonansi warna, lapisan, dan jejak energi visual.

Dinamika itulah yang mengemuka dalam pameran retrospektif Wayan Kun Adnyana bertajuk “Parama Paraga: Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New Abstract” di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia Bali, 25 Maret-4 Mei 2026. Retrospektif ini tidak sekadar menyusun karya-karya Kun Adnyana secara kronologis, tetapi membuka kemungkinan untuk membaca ulang dua dasawarsa penciptaannya sebagai satu proses yang utuh. Dari drawing yang presisi, pengolahan figur dan tubuh, pembacaan ikonografi dan artefak Bali, hingga fase mutakhir “Guwung Suwung”, tecermin satu disiplin kreatif yang terus menolak kemapanan.

Karena itu, tajuk “Parama Paraga” tidak cukup dibaca sebagai penanda capaian. Ia juga mengandung pengertian bahwa pencapaian artistik selalu berada di dalam gerak. “Parama” memberi kesan kematangan, tetapi “paraga” menolak kematangan itu sebagai keadaan final. Pada Kun Adnyana, setiap fase justru seperti menjadi kritik atas fase sebelumnya: bukan untuk menolaknya, melainkan untuk mendorong pencarian lebih jauh. Di sinilah retrospektif ini menjadi relevan, sebab ia memperlihatkan seorang perupa yang tidak berlindung di balik ciri khas, tetapi terus menguji bahasa rupanya sendiri.

Digelar dalam rangkaian Kalangan Widya Mahardika V, pameran ini dibuka oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana pada Rabu, 25 Maret 2026. Pameran ini turut didukung oleh Museum Seni Rudana, di mana Putu Supadma Rudana yang juga Ketua Asosiasi Museum Indonesia bersama Ketua Senat ISI Bali, Prof. Dr. Ketut Muka Pendet, bertindak sebagai host.  

"Kita selama ini mengenal Prof. Kun Adnyana sebagai rektor, dan pernah juga menjabat Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Tetapi di sisi lain beliau juga seorang seniman maestro. Menimbang penjelajahan kreatif 20 tahun perjalanan artistika garis Prof. Kun Adnyana, institusi seni The Rudana, yang menaungi Rudana Art Museum, Rudana Fine Art Gallery, dan Rudana Art Foundation mengajukan ide untuk dipamerkan di rumah hulu kreatifnya, yakni ISI Bali. Setelah itu, pada bulan Juni kita akan hadirkan 100 karya terpilih dari seri 'Guwung Suwung' Prof. Kun Adnyana di Museum Rudana, " ujar Putu Supadma Rudana. 

Supadma menambahkan, Prof. Kun Adnyana sejatinya memiliki tautan kesejarahan yang panjang dengan Museum Rudana dan Rudana Fine Art Gallery, Ubud. Sejak studi pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Batubulan, 1995-1996, ia telah mengikuti program magang di Rudana Fine Art Gallery. Sejak saat itu pula karya-karyanya sudah terlihat menonjol. Capaian Prof Kun Adnyana, tentu dapat dijadikan inspirasi dalam ruang yang terdekat, yakni mahasiswa ISI BALI. 

Pameran yang menampilkan 88 karya terpilih ini  menyajikan secara utuh bagaimana garis, pada tangan Kun, bukan hanya membangun rupa yang rinci, tetapi juga akhirnya berani melepaskan diri dari kewajiban representasi, masuk ke wilayah abstrak yang lebih bebas dan lebih terbuka.

Menurut kurator asal Korea Selatan, Jeon Dongsu, posisi Kun Adnyana penting bukan hanya karena produktivitasnya sebagai seniman, tetapi juga karena kemampuannya menjaga jarak dari pengulangan gaya yang mapan. “Kun Adnyana memperlihatkan bahwa seorang seniman tidak harus menetap pada formula yang sudah dikenali publik. Ia termasuk seniman yang memiliki keberanian untuk terus melakukan pencarian dan pembaruan dalam kerja artistiknya,” kata Jeon.

Jeon menambahkan, “Dalam diri Kun, kerja intelektual dan kerja artistik berjalan berdekatan. Itu yang membuat karya-karyanya punya lapisan pembacaan yang cukup kaya, tetapi tetap berangkat dari pengalaman visual yang konkret,” ujarnya.

Jeon menilai, pameran ini penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan kreatif Kun Adnyana tidak berhenti pada satu wilayah estetik. Menurut CEO Art and Culture Magazine, Korea Selatan ini, yang mengemuka dalam retrospektif Kun Adnyana bukan sekadar urutan karya dari masa ke masa, tetapi cara seorang perupa menjaga proses penciptaan tetap hidup. “Pada Kun, setiap capaian tidak berhenti sebagai hasil. Ia justru menjadi pijakan untuk bergerak lagi, menguji kemungkinan lain, dan membuka pembacaan sekaligus tafsir baru atas proses ciptanya selama ini,” ujar Jeon yang juga perintis Machari International Art Festival (MIAF) 2026.

Sementara itu, kurator pameran Warih Wisatsana berpandangan, konteks tematik pameran ini juga terletak pada kemampuan Kun menautkan pengalaman visual, refleksi intelektual, dan penghayatan batin dalam satu lintasan yang utuh. Dari fase figuratif hingga abstraksi, benang merahnya bukan perubahan gaya semata, melainkan kesungguhan untuk terus menafsir ulang pengalaman hidup, sejarah, dan lingkungan kultural di sekitarnya. Karena itu, retrospektif ini layak dibaca sebagai medan untuk melihat etos cipta, bukan hanya variasi bentuk.

Retrospektif ‘Parama Paraga’ menjadi pameran tunggal ke-19 Kun Adnyana, termasuk di antaranya “Charma Dharma” (An Enigmatic Portrait on Contemporary Painting), di Dolina Charlotty Resort, Slupsk, Poland (2023), “Hulu Pulu: Five Years Exploration of Yeh Pulu Reliefs” di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud (2021), “Santarupa: A Revival of Narrative in Contemporary Art”, di Thienny Lee Gallery, Sydney, Australia (2019), dan lain-lain.

Jejak penciptaan Kun dapat ditelusuri sejak 2006, ketika menempuh studi magister di Yogyakarta. Menurut penuturan Kun, penemuan bahasa rupa berbasis garis lahir justru di tengah kesibukan akademik. Saat harus menyelesaikan karya tulis, ia tetap merasakan dorongan kuat untuk melukis, lalu menemukan medium tinta cina sebagai jalan yang memungkinkannya menulis sekaligus menggambar dalam ritme yang sama.

“Di tengah pengerjaan karya tulis, saya tetap digoda keinginan untuk melukis. Dari situ saya menemukan kemungkinan bekerja dengan garis, sehingga menulis dan melukis bisa berjalan beriringan,” kata Kun Adnyana. Dari pengalaman itu lahir seri “Objek Tanpa Nama”, yang kemudian berkembang menjadi “Hana Tan Hana”, dengan bentuk-bentuk biomorfik dan organik yang disusun dari ribuan garis tipis berlapis.

Bahasa rupa berbasis drawing menjadi fondasi penting dalam perjalanan karyanya, meski tema yang diolah terus berubah. Dari sana Kun bergerak ke seri venus, bayi, tubuh, potret, alam dan bayang-bayang, hingga eksplorasi panjang atas relief Yeh Pulu. Dalam setiap fase, garis tidak sekadar hadir sebagai teknik, melainkan sebagai perangkat utama untuk membangun bentuk, atmosfer, dan watak pengalaman visual.

Salah satu bagian penting dalam retrospektif ini adalah rangkaian karya berbasis riset atas relief Yeh Pulu. Dalam fase tersebut, Kun tidak memperlakukan relief sebagai warisan visual yang selesai, melainkan sebagai sumber yang bisa dibaca ulang dan diuji kembali secara kontemporer. Dari proses itu lahir berbagai pendekatan artistik seperti drawing, cutting, coloring, smashing, highlighting, layering, dan deconstructing, yang memperlihatkan bahwa praktik studionya berjalan beriringan dengan kerja konseptual yang disiplin.

Bagi Kun, pameran retrospektif ini tidak saja tentang pencapaian kekaryaan, melainkan mencakup kesungguhan menalarkan sekaligus mempertanyakan posisi konsep dalam cipta seni. Penjelajahan 20 tahun artistika garis merupakan kerja penghayatan atas segala renik, jelimet, serta kompleksitas eksperimen garis yang telah dilakukan. 

Fase mutakhir dalam retrospektif ini ditandai kehadiran seri Guwung Suwung. Pada tahap ini, figur, simbol, dan narasi yang selama ini sering hadir dalam karya Kun mulai meluruh. Yang tampil justru lapisan warna, gestur, kikisan, dan jejak energi visual. Kanvas tidak lagi menjadi tempat menghadirkan sosok, tetapi medan tempat pengalaman dan penghayatan bekerja secara lebih bebas. Kun menyebut fase ini sebagai penemuan abstraksi baru yang mulai mengemuka sejak Nyepi, 29 Maret 2025.

Dengan demikian, Parama Paraga tidak berhenti sebagai pameran yang merangkum karya-karya terbaik seorang seniman. Pameran ini juga memperlihatkan bahwa perjalanan kreatif adalah proses yang terus diuji, diperbarui, dan dipertanyakan kembali. Pada diri Kun Adnyana, seni tidak tumbuh dari pengulangan, melainkan dari kesediaan untuk terus bergerak.


Berbagi Artikel