Tetirah Rupa Arcana

Sabtu, 28 Maret 2026 : 06:21

Di antara hamparan dinding putih, di rumah Jais Darga Wijaya, Putu Fajar Arcana—yang akrab dipanggil Can—menemukan medan kreativitas ciptanya. 

Dinding putih itu memang mengundang pandang. Terhampar lapang di sekeliling ruang, menggoda imajinasi perupa. Laiknya bentangan kanvas, siap digores liris atau ritmis berikut bauran warna dengan sekian komposisi yang tak terduga. 

Ruang-ruang dan dinding-dinding rumah art dealer internasional ini telah akrab dengan berbagai karya seni mumpuni lintas bangsa. Mencerminkan perjalanan panjang Jais Darga sebagai pialang seni rupa yang sohor. Boleh dikata, setiap karya pilihan yang dipajang, tidak semata mempertimbangkan capaian estetika seniman penciptanya, melainkan bagaimana vibrasi keindahan memancar selaras dengan keberadaan dan atmosfer rumah teduh di bilangan Desa Keramas, Gianyar, Bali tersebut.

Sebagai perupa, Can tidak langsung berhadapan dengan kanvas kosong sebagaimana biasanya. Dinding-dinding rumah itu telah memiliki sejarah visualnya sendiri. Memang jauh sebelum momen cipta itu, sebagai sahabat Jais, Can berulang mengunjungi bahkan sempat pula menginap di sana. 

Kini, sensitivitas kreativitasnya sebagai pelukis diuji. Bagaimana ia harus hadir meresapi bidang dinding seturut warna putih yang menggenangi pandang dan renungan. Bagaimana pula cahaya membias dalam hamparan keheningan; menggerakkan imajinasi dan liuk jarinya untuk menorehkan kemungkinan garis dan warna pada kanvas pilihannya. 

Dari serangkaian kunjungan dan percakapan mendalam dengan sang empu rumah, lahirlah karya Reflections of JD-26. Tiga panel berukuran besar, masing-masing 1,5 x 2,5 meter, dengan total bentangan 4,5 x 2,5 meter, bukan hanya menghiasi namun hadir mengada dan meruang menciptakan keharmonian tersendiri dalam lapis demi lapis warna-warna yang liris puitis.

Karya triptic puitik ini semuanya menggunakan media akrilik di atas kanvas. Dengan teknik fluid art, adalah keniscayaan yang memungkinkan Can menjaga warna-warna yang ritmis berikut torehan garis yang liris, padu dalam keharmonian ruang yang menyatu pandang. 

Bila merunut proses ciptanya, karya tiga panel berukuran besar ini, menuntut kesigap-tanggapan tubuh perupa antara kespontanan dan kepresisian. Tubuh bukan semata mengikuti gerak tangan yang cepat, akan tetapi bagaimana tetap kuasa menjaga rima rupa dan genangan warna. Termasuk pula tahapan yang terbilang krusial teknik fluid art, yakni meraih keselarasan komposisi sebelum cat (medium warna pilihan) mengering.

Pilihan tajuk Reflections adalah buah penghayatan mendalam akan keberadaan rumah Keramas tersebut, berikut cerminan kehangatan batin pemiliknya. Dari bincang intim dengan Jais Darga, kediaman itu baginya tidak sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah tetirah, di mana keriuhan dan kegaduhan keseharian undur—terciptalah ruang renung yang menentramkan. 

Selain pilihan-pilihan warna mistis magis yang menyarankan dunia ‘niskala’, Can sebagai perupa merefleksikan ruang dan dinding sebagai semesta atau kosmos, di mana kehidupan tidak lagi dibatasi oleh waktu yang linier. Terhampar dalam kanvas, renungan yang meruang; di mana yang tiada atau tak tergambarkan mengemuka dalam wujud yang tak sepenuhnya nyata. Kelindan sosok-sosok puitik dengan latar abstraksi warna berlapis, tidak pula bertendensi wujud simbolik.  Suatu ragam impresionistik yang mempribadi.

Pilihan figur burung phoenix, makhluk mitologis, bukan semata diniatkan menyampaikan pesan tertentu karena wujud rupanya, melainkan lebih dikedepankan merunut kisahan berbagai tradisi. Burung Phoenix adalah lambang kebangkitan kehidupan setelah titik nadir kehancuran. Menyarankan daya survival, pesan panggilan Sangkan Paran sekaligus keniscayaan pilihan lelaku kehidupan. 

Menariknya, Can tidak memilih jalan literal. Ia tidak menggambar phoenix sebagai sosok yang utuh dan mudah dikenali, justru membiarkannya sebagai gagasan metaforik dalam sosok warna berlapis yang liris ritmis. 

Pilihan warna dalam Reflections of JD-26 pun lahir dari kesadaran yang serupa. Biru, ungu, dan merah dikomposisikan sebagai latar dasar, sementara kuning, oranye, dan cahaya terang hadir sebagai lapisan yang lebih permukaan. Warna-warna itu dikombinasikan dan dikomposisikan bukan untuk memesona mata belaka, akan tetapi memperluas medan vibrasi hingga mengingatkan kita kepada yang hakiki. 

Di sinilah teknik fluid art yang digunakan Can menjadi sangat menentukan. Pada banyak tangan perupa, teknik ini bisa berhenti hanya pada efek cair yang memukau mata. Namun pada Can, fluid art bekerja sebagai lelaku penghayatan cipta yang melampaui hal-hal teknis mekanis. Warna dan medium pilihan diolah lebih dahulu dengan intensitas yang telah terlatih; dibaurkan air dan flueterol, dilembutkan alami dengan mixer agar meraih tekstur sebagaimana yang diharapkan. 

Tahapan berikut dari proses cipta ini, seperti diurai di atas, bagaimana tubuh menari dalam disiplin irama cipta yang tinggi, menuntut kecekatan dan kecepatan, seturut sifat cat yang lebih cair dari penggunaan pada teknik kuas biasa. Can harus menangkap momentum angin sebagai medium kendali, menjaga ritme tangan agar lapisan warna tetap berdegup hidup. Sedikit terlambat, cat akan mengering dan kemungkinan rupa yang diinginkan tak dapat diraih. 

Karena itu, bagi Can, fluid art bukan sekadar teknik, melainkan sebentuk tahapan serupa meditasi yang melibatkan disiplin badan dan batin dalam proses panjang penciptaan. Melukis selaras dengan pengaturan napas, sebentuk penghayatan akan disiplin yoga cipta yang terjaga. Cat dibiarkan mengalir, bertemu, berkelindan, dan mengendap. Can menyadari, sebagaimana hakikat kehidupan ini, tidak semua dapat direncanakan dan diduga. Selalu ada ketakjuban pada kemustahilan dan kemungkinan yang melampaui pemahaman nalar; bahwa medium, dalam teknik cipta ini, juga punya kehendaknya sendiri. 

Can memulai pengerjaan dua panel pertamanya sejak pagi, sekitar pukul enam, dan bekerja simultan hingga menjelang siang. Begitu dikisahkan, merunut ulang bagaimana akhirnya ia menyelesaikan karya untuk rumah Keramas itu. 

Tentu karya sebesar ini tidak selesai dalam sekali duduk.  Prosesnya terus berlangsung melewati Desember 2025 hingga Januari 2026. Panel ketiga bahkan lahir dengan nuansa yang agak berbeda, lebih kuat pada dorongan memilih warna oranye, kuning, dan hitam. Perbedaan ini tidak membuat keseluruhan karya terpilah pisah. Justru sebaliknya, memberi dinamika batin yang lebih nyata, seolah karya itu memang tumbuh dalam rentang waktu tertentu.

Jika kita berdiri di hadapan Reflections of JD-26, tiga panel itu mengundang diresapi sebagai tiga tahapan olah sublimasi pengalaman batin. Mata hanya perantara bagi kelana Jiwa yang melepas bebas, merindu Maharupa yang niskala itu.

TETIRAH

Panel pertama menghadirkan suasana yang lebih pekat dan berat. Merah menyala, lelehan warna yang kuat, liukan garis yang seperti membawa imajinasi pada pendakian pencaharian atau mula langkah Tetirah. Dalam lapisan itu tampak sosok perempuan samar yang berjalan menjauh. Kesan yang muncul adalah perjalanan yang panjang, berliku. Yang menarik, Can tidak tergoda dengan ketegasan figuratif. Ia membiarkan sosok itu tetap samar, seperti kenangan yang masih berlintasan di dalam ingatan. Justru karena kesamaran itu, kesan batinnya menjadi lebih sugestif. Kita tidak sedang melihat cerita yang sudah selesai, melainkan fase hidup yang tengah dijalani meski tertatih tak mudah.

Panel kedua memperlihatkan gerak yang berbeda. Di sini suasana metamorfosis mulai bekerja. Phoenix seperti menjelma menjadi sosok perempuan yang berjalan lebih teguh, melewati taman kupu-kupu. Warna-warna menjadi lebih membias,  memberi ruang pada cahaya. Jika pada panel pertama yang terasa adalah dorongan untuk terus melangkah, maka pada panel kedua mulai mengemuka refleksi diri. Kupu-kupu metaforis hadir sebagai tanda perubahan, bukan sebagai hiasan. Ia mengingatkan bahwa hidup selalu mengandung kemungkinan untuk berganti bentuk, untuk membaca diri dengan lebih jernih, untuk bergerak ke degup hidup yang lain.

Panel ketiga membawa kita pada suasana yang lebih hening. Figur biksu dengan payung hadir di bawah cahaya putih.Sosok biksu adalah pilihan rupa yang memang tengah jadi galian Can dalam seri demi seri terkininya. Pada bagian ini, warna tidak lagi menekan atau sugestif seperti sebelumnya. Mengendap lindap, lebih tenang, melapangkan pandang. Cahaya yang muncul juga tidak rekah sebagai puncak kemilau yang dramatis. Hadir perlahan, menyarankan keheningan mendalam; penerimaan atau keikhlasan.

Dari penghayatan yang transformatif ini, kita bisa melihat bahwa Reflections of JD-26 tercipta bukan sebagai lukisan dekoratif yang indah untuk dilihat sepintas. Ia menuntut penghayatan pandang tersendiri. Orang mesti menyempatkan waktu tersendiri, berdiri lebih lama di hadapannya agar warna-warna itu mulai membuka getar ritmis mitisnya. Lukisan ini tidak menyosok secara kasat mata. Ia lebih menyerupai ruang yang perlahan membuka lapis kemungkinan terdalamnya. Sebuah dialektika antara pemirsa dan dunia pencipta, membawa siapa saja berhadapan pengalaman puitika kehidupan yang diam-diam tersimpan di dalam diri.

Sebagai penyair dan penulis, ia lama hidup dalam disiplin bahasa, dalam ritme kalimat, dalam jeda antarlarik,  berkelindan antara yang disuratkan atau disiratkan. Kepekaan serupa itu terbawa ke dalam kanvas. Jejak kepenyairannya hadir pada cara ia memberi aksentuasi pada ruang, termasuk pula pada cara ia memilah sosok di kanvas selaras tujuan simboliknya. Demikian pula keberadaan warna, membaur atau membias seperti menggenang alami.

Namun penting dicatat: lukisan Can tidak jatuh menjadi larik puisi yang sekadar dipindahkan ke atas kanvas. Justru di sinilah kekuatan kreatifnya;  Can berhasil menjaga agar rupa tetap menjadi puitika rupa. Puisi memberinya kepekaan, tetapi kanvas memberinya bahasa lain yang otentik. Karena itu, karya-karyanya tidak terasa ilustratif. Ia membuka ruang tafsir yang melepas bebas, melapangkan pandang dan renungan.

Beberapa karya lain Can membantu kita melihat kecenderungan ini, meskipun dalam konteks Rumah Jais Darga mereka hanya menjadi sampiran. Dalam karya-karya yang menampilkan kupu-kupu, medan warna yang berhadap-hadapan, atau sosok-sosok kecil yang berjalan di tengah bentangan visual yang luas, tampak bahwa Can memang tertarik pada wilayah antara: antara abstraksi dan isyarat figuratif, antara pengalaman personal dan ruang simbolik yang lebih terbuka. Ia sering memulai dari warna sebagai energi, lalu membiarkan figur muncul sebagai penanda makna. 

Pada rumah Jais Darga, seluruh kecenderungan itu seperti menemukan momentumnya. Dinding putih yang lapang mengundang pesona cipta. Keheningan rumah memberi ruang bagi warna untuk rekah tumbuh “apa adanya” dalam bentangan alam raya. Yang menjelma kemudian percakapan lirih antara dinding putih dan warna. Antara sang rumah teduh dan bisikan mengalun pengalaman batin. Cermin bagi siapa saja yang bersedia Tetirah; undur dari keriuhan keseharian yang melenakan, mengalami kedalaman hening yang wening (warih wisatsana)

Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali tahun 1965. Putu lebih dikenal sebagai jurnalis dan penulis, la menjadi jurnalis harian Kompas Jakarta 1994-2022. Buku-buku tunggalnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berupa novel, cerpen, puisi, drama, dan esai. Selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat melukis tak biasa, la kemudian memperkaya teknik ini dengan mengembangkan konsep melukis berdasarkan lima unsur alam padat, cair, api, angin, dan gas. Pertama kali berpameran saat membantu para petani di Gianyar dengan mengikuti pameran Lukisan Bukan Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar. Kemudian menggelar pameran Mencuri Waktu (2000) di kantor Kompas Biro Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, Grateful Dead (2013) di Bentara Budaya Jakarta. Tahun 2024 dan 2025 menyumbangkan karya dalam lelang Sidharta Auctioneer Jakarta untuk mendukung Indonesian Dance Festival (IDF).
Berbagi Artikel