![]() |
| Pameran N-CAS ISI Bali di ArtMoments 2026 |
Sejumlah perupa terpilih dalam naungan Nata-Citta Art Space (N-CAS) mewarnai perhelatan seni rupa internasional ArtMoments, berlangsung di Jakarta, 4-7 Juni 2026. Selain karya-karya dwimatra, seni lukis dan fotografi, terhampar pula karya trimatra berupa patung, kriya keramik, serta seni desain wastra dengan berbagai reka cipta kreatifnya.
Pameran bersama ini mempertemukan 16 perupa lintas generasi terdiri dari 13 dosen serta 3 mahasiswa terpilih dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Hakekatnya merupakan perayaan penciptaan yang mengusung kemungkinan-kemungkinan baru seni rupa kontemporer Bali. Merujuk galian tematik yang ditetapkan, masing-masing seniman berupaya menawarkan capaian stilistika-estetika terkini yang autentik.
Melalui tajuk Raya-Citta-Rupa (Cahya Imaji Cipta), pameran ini menghamparkan ruang renung tentang Cahaya sebagai kesadaran, Imaji sebagai daya cipta, dan Rupa sebagai perwujudan pengalaman manusia yang senantiasa berkelindan dengan waktu, ingatan, alam, dan sejarah kebudayaannya. Seturut pemahaman tersebut, terefleksi pada karya pilihan ini, bahwa penciptaan seni rupa bukan sekadar aktivitas estetik, tetapi sebuah usaha memahami dinamika kehidupan secara mendalam dan menyeluruh. Sebagai kurator yakni Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Rai Remawa, M.Sn., Warih Wisatsana, dan Alaida Niwaya.
Para seniman menghadirkan karya-karya yang lahir dari pergulatan panjang; antara penghayatan personal, riset artistik, pengalaman empiris, dan pembacaan ulang terhadap berbagai jejak budaya yang terus hidup di sekitar mereka. Menegaskan satu hal penting: seni rupa bukan semata perkara menghadirkan ragam bentuk visual atau puspa rupa yang memikat pandang, melainkan juga cara manusia menghayati keberadaan dirinya di tengah dinamika semesta dalam keniscayaan perubahan.
![]() |
| Pengunjung menyaksikan karya-karya perupa ISI Bali di ArtMoments 2026 |
Karya-karya tidak semata mengemuka sebagai ilustrasi tema. Pesona komposisinya membuka ruang tafsir yang luas, menghadirkan pengalaman rupa dan visual yang bergerak antara kenyataan dan imajinasi; sakala- niskala; juga antara yang intim personal dan yang bersifat sosial-kultural. Di sanalah seni rupa menemukan daya hidupnya: menjadi bahasa yang memungkinkan manusia membaca ulang hakekat dirinya sendiri.
Nata-Citta Art Space (N-CAS) sendiri bukan sekadar galeri kampus, melainkan ruang akademika lintas masa, teruji mengaktualisasi momenta cipta seni rupa dan seni desain. Berbagai pameran seni bersakala nasional dan internasional diselenggarakan secara berkala; senantiasa dimaknai program diskusi tematik sebagai upaya alih pengetahuan berkelanjutan.
Keberadaannya sebagai bagian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali memperlihatkan bagaimana kampus seni bukan hanya place (tempat), tetapi juga space (ruang) yang menghidupi atmosfer kreativitas lintas disiplin dan lintas generasi. Dengan fasilitas ruang pamer yang representatif dan standar presentasi artistik nan tertata dan terjaga, N-CAS menempatkan diri sebagai ruang seni akademika terbuka berjejaring nasional maupun internasional.
Reka Cipta
Karya-karya dalam ajang kali ini memperlihatkan keberagaman pendekatan visual, reka rupa, galian medium, dan gagasan artistik yang bergerak antara penghormatan pada akar tradisi dan semangat kebaruan. Ada yang menelusuri lapis tubuh, lanskap, dan memori; ada pula yang mengeksplorasi material, simbol budaya, hingga ruang sosial dan spiritualitas kontemporer.
Secara keseluruhan karya-karya itu terbukti memperlihatkan elan kreatif dan etos cipta yang rekah dari pertemuan antara praktik artistik yang kukuh dan tradisi akademik di ISI Bali yang teguh. Pada gelar karya bersama ini, seni terbaca sebagai proses panjang pengolahan pengalaman, pengetahuan, dan sensibilitas estetik. Riset, penggalian tradisi, eksplorasi medium, hingga keterbukaan terhadap perkembangan seni rupa kontemporer, menjadi bagian penting dalam lelaku penciptaan para dosen-perupa maupun mahasiswa.
Wayan Kun Adnyana memperlihatkan kembali ketekunannya menggali ruang historis dan tubuh imaji Bali. Melalui olah garis, warna, tekstur, dan figur biomorfik yang menjadi ciri khasnya, Kun membangun dunia sesosok rupa yang ritmis magis sekaligus luwes bagi berbagai kemungkinan tafsir.
Kebaruan itu juga ditunjukkan dari penemuannya atas konsep berikut komposisi yang tak biasa dalam seri Panggung Punggung. Jika selama ini wajah sering menjadi pusat perhatian dalam banyak karya seri potret, di sini justru yang dikedepankan adalah bagian belakang tubuh—Punggung—menjadi pusat komposisi atau Panggung.
![]() |
| Lukisan Wayan Kun Adnyana 'Peace & Reason' |
Pilihan ini bukan perkara bentuk semata, bisa disimak melalui dua karyanya yakni “Peace & Reason” (Ink & Acrylic on Canvas, 180 x 180 cm) dan “Go!! #2” ((Ink & Acrylic on Canvas, 120 x 100 cm), lebih merunut perihal bagaimana cara pandang dikritisi dan dimaknai. Punggung menghadirkan misteri. Ia menolak keterbacaan langsung. Memberi ruang bagi prasangka, tafsir, dan imajinasi. Dengan menjadikan punggung sebagai pusat atau panggung, Kun seperti memindahkan perhatian kita dari ekspresi yang gamblang menuju kehadiran dan keberagaan yang ambiguitas. Di sini bahasa rupa ironikal kembali menemukan elan kreatifnya, di mana yang tertepikan atau terlupakan justru mengemuka sebagai reka makna yang utama.
Ketut Muka Pendet menghadirkan karya keramik yang berangkat dari dunia sekitar, masing-masing berjudul “Topeng” (Earthenware, 35 x 30 cm) dan “Daun Gugur” (Earthenware, 35 x 40 cm). Bentuk-bentuk diolah secara organis melalui penguasaan material tanah liat dan glasur yang matang. Karya-karyanya bukan hanya menarik secara visual, melainkan juga menghadirkan renungan tentang kerentanan alam dan perubahan ekosistem yang berlangsung perlahan. Dunia batin Ketut Muka merupa dalam sosok bentuk yang menawarkan keheningan pandang. Keindahan hadir antara ketenangan dan kemungkinan angin yang tiba-tiba menjadi topan; bahwa kehidupan selalu berada dalam naungan keseimbangan Rwa Bhineda.
![]() |
| Karya Ketut Muka Pendet berjudul "Topeng" |
Made Jodog menghadirkan dunia visual yang cenderung sureal dan asosiatif. Melalui lapisan warna gelap, tekstur dramatik, dan bentuk-bentuk fauna yang samar, ia membangun suasana tentang daya bertahan hidup dan proses perubahan. Figur-figur dalam karyanya hadir di ambang antara nyata dan imajinatif.
Dalam kecenderungan abstraksinya, Jodog menghadirkan pengalaman adaptasi sebagai pergulatan manusia menghadapi dinamika zaman dan alam yang terus berubah. Karyanya, selaras tajuknya “Ke Seberang” (Mixed media on Canvas, 145 x 110 cm), memaknai perjalanan sebagai ruang misteri antara harapan dan ketidakpastian.
Wayan Sujana Suklu tetap mengembangkan dunia rupa yang bertaut dengan relasi Sakala dan Niskala. Tubuh manusia dihadirkan melalui lapisan garis spontan dan bidang warna simbolis yang bergerak saling bersilang kemungkinan. Figur-figur itu terasa seperti tubuh yang belum selesai; ruang pertemuan antara pengalaman batin, energi spiritual, dan kesadaran kosmik manusia.
Melalui rangkaian karya “Melarut di Bali Utara” (Charcoal, Acrylic on paper, 50 x 50 cm), perupa ini bersikukuh mengolah lukisan sebagai jejak tubuh dan endapan pengalaman performatif yang berlangsung di Bukit Saras dan pesisir Lovina. Enam karya yang dikerjakan secara spontan melalui praktik melukis on the spot ini tidak berusaha merekam lanskap secara realistis, melainkan menangkap atmosfer. Karya rupanya adalah refleksi pengalaman tubuh secara ekologis dan emosional. Sapuan gestural, percikan material, dan bidang-bidang kosong menghadirkan lukisan sebagai endapan kejadian cipta. Lukisannya adalah pertunjukan tersendiri; kelindan energi alam, momentum yang meruang-mewaktu.
![]() |
| Karya Tiartini Mudarahayu berjudul "Teka Teki Tuju Timur" |
Sejumlah karya dalam pameran ini memperlihatkan keberagaman cara pandang seniman dalam membaca tubuh, alam, sejarah, hingga relasi manusia dengan ruang hidupnya. Karya sulam Tiartini Mudarahayu menghadirkan jejak sejarah Banda dan Pulau Run sebagai medan perebutan rempah dunia melalui konfigurasi bentuk yang repetitif dan enigmatik. “Teka-Teki Tuju Timur” (Sulam pada katun, 120 x 120 cm) mengolah fragmen sejarah menjadi metafora visual yang memancing rasa ingin tahu, sementara “Sena dari Surga Nusantara” membayangkan figur penjaga pala Banda sebagai simbol keindahan dan perlindungan.
Di tangan Tjok Ratna CS, wastra tidak berhenti sebagai busana yang elok dikenakan atau indah dipandang, melainkan juga sebuah medium yang tepat makna dan guna. Melalui karya “Sang Batari” (Silk with traditional handpainted technique, 115 x 250 cm), ia menghadirkan sosok mistis dewi suci jelmaan surgawi yang berakar pada ingatan spiritual leluhur Nusantara. Sementara “Ubud Traditional Market” (Silk with traditional handpainted technique, 115 x 250 cm) menggambarkan suasana pasar tradisional Ubud dengan ikon semangka ditampilkan sebagai tanda khas kehidupan komunal desa, sekaligus penanda kuat dalam tradisi visual pasar Ubud.
Tiartini dan Tjok Ratna CS melalui medium art textile menghadirkan wastra bukan sekadar benda pakai, tetapi ruang narasi dan pengalaman tubuh manusia. Tekstil diolah menjadi bahasa visual yang lembut, puitis, dan menyimpan jejak identitas perempuan, tradisi, serta pengalaman sosial. Karya-karya mereka memperlihatkan bagaimana kain dapat menjadi ruang ingatan budaya yang hidup dan terus bergerak mengikuti perubahan zaman.
Pada sisi lain, I Wayan Adi Sucipta lewat seri “Femina #5 dan #6” (Ink & Acrylic on Canvas, 100 x 60 cm) merefleksikan keberadaan sisi feminin dalam diri lelaki, menghadirkan kelembutan sebagai kekuatan batin yang berjalan berdampingan dengan maskulinitas. Kecenderungan melihat tubuh dan kehidupan sebagai ruang transformasi juga tampak pada karya I Made Hendra Mahajaya Pramayasa. “Earth Veins” (Mixed media on Canvas, 185 x 135 cm) memandang bumi sebagai tubuh hidup yang dialiri energi dan air layaknya darah. Sementara “Embryonic Silhouette” (Mixed media on canvas, 150 x 100 cm) menghadirkan fase awal kehidupan manusia melalui metafora janin dalam ruang rahim.
Pendekatan material yang eksperimental muncul pada karya I Nengah Wirakesuma yang menggunakan getah kulit kopi untuk membangun ekspresi wajah manusia masa kini—liar, gelisah, sekaligus penuh lapisan emosi, melalui karya berjudul “Kali’s Eyes #3 dan #4” (Coffee Fruit Sap on Canvas, 200 x 145 cm). Kedua karya itu bermedium olahan kopi, mengemuka dalam ragam stilistik-estetik abstrak, nir sosok dan nir bentuk yang imajinatif. Warna dasar cokelat kopi yang diolah dari sari buah dan kulitnya membangun bidang monokrom yang sugestif, mengelak dari sosok serta menghadirkan luapan daya cipta tak terduga.
I Gede Jaya Putra, lewat karya “Pesona Luka” (Oil on canvas & Gravir Wayang on Acrylic, 97 x 131 cm) mengolah persoalan proyeksi diri, maskulinitas, dan keberanian melalui figur pembalap, patung termenung, hingga tokoh Srikandi sebagai simbol redefinisi peran gender dalam budaya Bali-Hindu. Memadukan ikon budaya populer, dunia urban, dan simbol tradisi dalam satu bentangan visual yang komunikatif. Melalui pendekatan kolase dan permainan warna yang cair, ia menghadirkan kritik sosial tentang perubahan masyarakat Bali hari ini.
Di tengah suasana urban yang riuh, I Gede Ari Widia Utama Pucangan menggunakan idiom street art untuk memperlihatkan dialektika antara tradisi Bali dan perkembangan kota, di mana ritual dan simbol-simbol spiritual tetap bertahan di tengah lanskap perkotaan yang chaos. Dua karyanya, berjudul “Bunganya untuk Kodya” dan “Bunganya Untuk Ritual” (Mixed media on canvas, 120 x 120 cm), menggambarkan bagaimana dunia modern, gaya hidup urban, dan ingatan budaya saling berbenturan namun sekaligus hidup berdampingan.
Hubungan manusia dengan alam muncul secara puitik melalui cyanotype karya Ida Bagus Candrayana yang merekam jejak flora sebagai kenangan cahaya dan keheningan. Pada ‘Harmoni Alam di Halaman” (100 x 80 cm), Candrayana menghadirkan sensibilitas fotografi yang puitis dan hening. Fragmen flora, cahaya, dan suasana alam sederhana diolah menjadi pengalaman visual yang intim. Karya-karyanya seperti arsip kecil tentang momenta kehidupan yang sering luput diperhatikan. Ada ketekunan dalam cara kreator menangkap cahaya dan menjadikannya ruang renung tentang hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Refleksi ekologis juga hadir pada karya olahan kayu I Made Suparta yang menyinggung rapuhnya persahabatan, kecemasan sosial, hingga pentingnya menjaga ekosistem hutan. Karya patung “Jaga Wana” (Kayu Akasia, 67 x 41 cm) bertaut dengan dunia mitologis dan simbolik. Kayu diolah melalui pahatan yang kuat dan ekspresif, mengedepankan figur-figur yang tidak realistis tetapi sarat energi. Karyanya terasa seperti penanda tentang ketakterdugaan hidup manusia; dunia yang bergerak antara kekuatan spiritual, nasib, dan perjalanan batin yang tidak selalu mudah dipahami.
![]() |
| Karya Ida Ayu Artayani berjudul "Premādhāra" |
Melalui medium keramik yang ditekuninya, Ida Ayu Gede Artayani menyikapi tubuh sebagai ruang olah rasa dan kepeduliaan; dari luapan kegelisahan dalam “Khatarsis” (Stoneware, 40 x 30 cm) hingga penghormatan terhadap tubuh ibu dalam “Premādhāra” (Stoneware, 60 x 35 cm). Keseluruhan karya ini memperlihatkan bagaimana praktik seni rupa kontemporer, meneguhkan karya keramik stoneware yang memadukan sensibilitas ekologis dan kosmologis. Bentuk-bentuk organis yang mengalir menghadirkan kesan seperti arus air, tubuh alam, atau fragmen energi semesta. Penguasaan teknik yang matang membuat karya-karyanya terasa mengungkapkan kelembutan sekaligus keteguhan atau kesan yang kuat.
Desak Putu Agnis dan Tebuana Istri Mahisarani menghadirkan karya-karya yang memperlihatkan pergulatan emosional dan pengalaman personal. Melalui eksplorasi warna, figurasi, dan ruang visual yang ekspresif, keduanya menghadirkan dunia batin yang bergerak antara kenyataan sehari-hari dan wilayah simbolik yang lebih imajinatif. Lewat “Berkelana” dan “Inang dalam Nadi” (Acrylic, Oil Patel & Yarn on Canvas, 100 x 100 cm), Agnis berupaya menemukan irama rupa yang autentik di tengah derasnya kecenderungan seni rupa kontemporer hari ini. Sementara itu, Tebuana Istri Mahisarani menyoroti relasi antarmanusia melalui simbol-simbol hewan; mulai dari hubungan toksik yang rapuh hingga relasi bimbingan yang penuh kasih dan kebijaksanaan melalui karya “Superb, Yet Unfaithful” dan “Drops of Wisdom” (Acrylic on canvas, 90 x 100 cm).
![]() |
| Karya Desak Agnis berjudul "Berkelana" |
Melalui keseluruhan karya dalam Raya-Citta-Rupa, tampak jelas bahwa para perupa tidak berhenti pada pencapaian teknis atau kemapanan gaya personal. Mereka terus bergerak menggali kemungkinan baru, mengembangkan riset artistik, dan memperluas pengalaman rupa/visualnya masing-masing. Tradisi Bali tidak diperlakukan sebagai bentuk yang beku, tetapi sebagai sumber hidup yang terus dapat dibaca ulang dan dikembangkan sesuai dinamika zaman, sementara kecenderungan global diolah kembali melalui pengalaman budaya lokal yang khas bernas. (RLS/ID)







