Saat Samudra Menjelma Energi Kehidupan dalam Kanvas Made Ruta

Senin, 31 Juli 2023 : 14:24
Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, Bali Megarupa 2023 kembali menjadi salah satu ruang presentasi seni rupa modern dan kontemporer dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ). Mengusung tajuk Wara-Wastu-Waruna (Bahtera Karsa Samudra Rupa), pameran yang berlangsung pada 16-30 Juli 2023 ini menghadirkan 99 karya melalui dua skema kurasi, yakni Undangan Terpilih Perupa dan Undangan Terbuka (Open Call), yang dipresentasikan di Gedung Kriya Taman Budaya Provinsi Bali, Nata-Citta Art Space ISI Denpasar, dan Museum ARMA Ubud. 

Bersama tim kurator Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Jang Shin Jeung, dan Anak Agung Gde Rai, Bali Megarupa kembali menegaskan dirinya sebagai laboratorium penciptaan yang memberi tempat bagi keragaman ekspresi seni rupa modern dan kontemporer. Tema besar Citta Rasmi Segara Kerthi yang diusung FSBJ diterjemahkan melalui eksplorasi samudra atau bahari dalam beragam melalui lukisan, patung, instalasi, fotografi, grafis, hingga kriya, memperlihatkan keluasan pendekatan estetik maupun konseptual para perupa lintas generasi dan lintas negara. 

Samudra bukan sekadar objek representasi, melainkan titik tolak bagi beragam eksplorasi artistik. Laut juga bukan sebatas lanskap geografis, melainkan ruang konseptual yang menyimpan memori, kehidupan, sekaligus kemungkinan artistik yang nyaris tak berbatas. Karena itu, karya-karya yang tampil tidak berhenti pada representasi visual tentang bahari. Banyak di antaranya bergerak ke wilayah reflektif, menjadikan laut sebagai cara membaca relasi manusia, alam, hingga pengalaman batin.

Dalam satu perhelatan ini publik dapat menjumpai lukisan, fotografi, grafis, patung, instalasi, hingga kriya dengan pendekatan estetik yang sangat berbeda. Kehadiran seniman dari berbagai generasi, bersama 17 perupa internasional dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Jepang, Korea Selatan, India, dan Italia, semakin memperluas spektrum percakapan visual yang terjadi di ruang pamer.

Di antara keragaman respon tersebut, lukisan Sumber Kehidupan karya Made Ruta menawarkan pembacaan yang menarik. Alih-alih menghadirkan laut sebagai panorama yang mudah dikenali, ia membangun pengalaman visual melalui abstraksi, ritme, dan lapisan warna yang mengarahkan perhatian pada energi yang terus bergerak di balik tubuh samudra.

Keluasan Samudra, Kedalaman Makna

Sekilas, Sumber Kehidupan (2023) tampil sebagai ledakan berbagai gradasi biru yang bergerak memenuhi bidang kanvas berukuran 170 x 200 sentimeter. Gelombang besar yang melingkar mendominasi komposisi, sementara sapuan cat yang tebal membangun permukaan yang nyaris dapat dirasakan secara fisik. Tidak ada figur manusia, tidak pula objek yang dapat dikenali secara literal. Yang hadir adalah energi.

Pulasan warna Biru di tangan Made Ruta tidak sekadar menjadi representasi laut, tetapi membangun atmosfer yang terus bergerak. Lapisan demi lapisan tekstur menghasilkan kesan arus yang tidak pernah berhenti, seolah kehidupan sendiri sedang mengalir di hadapan mata. Gelombang hadir sebagai ritme visual, bukan objek. Bentuk-bentuk yang muncul terus bergeser antara abstraksi dan kemungkinan asosiasi, memberi ruang bagi setiap penonton untuk menemukan pengalaman yang berbeda.

Pilihan tersebut memperlihatkan konsistensi praktik artistik Made Ruta selama beberapa tahun terakhir. Ia tidak berpindah-pindah gaya mengikuti kecenderungan yang sedang berkembang, melainkan terus memperdalam kosakata visual abstrak yang telah dibangunnya. Kesinambungan inilah yang membuat karya-karyanya memiliki identitas yang mudah dikenali tanpa harus mengulang bentuk yang sama.

Dalam lanskap seni rupa kontemporer, konsistensi semacam ini bukan perkara sederhana. Identitas artistik lahir bukan melalui pengulangan, tetapi melalui proses pendalaman yang panjang. Pada titik itu, Made Ruta memperlihatkan disiplin yang kuat dalam mengolah bahasa visualnya sendiri.

Pengalaman Visual yang Tidak Pernah Selesai

Secara estetik, Sumber Kehidupan juga menarik karena menawarkan pengalaman yang terus berubah. Mata penonton tidak berhenti pada satu titik. Ia mengikuti pusaran, berpindah ke tekstur, kembali pada bidang gelap, lalu menemukan percikan warna terang yang muncul dari balik sapuan akrilik.

Pengalaman melihat menjadi proses yang berulang. Semakin lama diamati, semakin tampak hubungan antara ritme, kepadatan, dan ruang yang dibangun melalui gestur melukis. Tidak ada pusat perhatian yang tunggal. Seluruh permukaan kanvas bekerja sebagai medan visual yang dinamis.

Laut sebagai Energi Kehidupan

Dalam gelaran Bali Megarupa V, karya Made Ruta menemukan relevansinya secara utuh. Ketika banyak seniman merespon tema bahari melalui simbol, narasi, atau representasi alam, Made Ruta memilih berbicara mengenai esensi. Laut tidak lagi hadir sebagai panorama, melainkan sebagai sumber energi yang terus memacu denyut hidup.

Pilihan ini sejalan dengan semangat Wara-Wastu-Waruna, yang memaknai samudra sebagai ruang penciptaan tanpa batas. Pada Sumber Kehidupan, samudra bukan objek yang dipandang dari kejauhan, melainkan pengalaman yang menyerap penonton ke dalam pusaran ritme, tekstur, dan warna.
Di tengah keberagaman 99 karya yang memenuhi tiga ruang pamer Bali Megarupa V 2023, lukisan Made Ruta menunjukkan bahwa kekuatan seni tidak selalu lahir dari kompleksitas narasi, tetapi justru muncul ketika seorang seniman dengan tekun mempercayai bahasa visualnya sendiri. Sumber Kehidupan menjadi penanda bahwa konsistensi artistik dapat melahirkan pengalaman estetik yang terus hidup. Sebagaimana laut yang tak pernah benar-benar diam, lukisan ini terus menawarkan kemungkinan pembacaan baru setiap kali dipandang kembali. (Katarupa.id/Alaida)


Berbagi Artikel